Profil Kabupaten Dogiyai

SEKILAS PROFIL KABUPATEN DOGIYAI

 A. Sejarah Pemerintahan

Pada masa Pemerintahan Belanda di Papua dibawah pimpinan Gubernur Van Waardenburg, mulai 1 April 1952 wilayah Papua dibagi dalam 4 Afdeeling. Wilayah Paniai merupakan bagian dari Afdeeling Central Bergland yang terbagi dalam 3 Onder Afdeeling, yaitu: (1) Onder Afdeeling Wisselmeren dengan ibukota Enarotali; (2) Onder Afdeeling Tigi dengan Ibukota Waghete; dan (3) Onder Afdeeling Groote Valley dengan Ibukota Wamena. Saat itu Distrik Kamu yang merupakan cikal bakal wilayah Kabupaten Dogiyai, masuk dalam Onder Afdeeling Tigi yang berkedudukan di Waghete, yang meliputi 3 (tiga) wilayah distrik, yaitu: (1) Distrik Tigi; (2) Distrik Kamu; dan (3) Distrik Teluk Sarera di Nabire.

Pembagian terakhir menjelang penyerahan kekuasaan atas wilayah Papua dari Nederlands Niuew Guinea kepada Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1961, Wilayah Papua terbagi dalam 6 Afdeling, 83 Onder Afdeling, 83 Distrik dari 2.087 Dorps serta 5 wilayah eksploratie. Pada zaman itu, Paniai masuk dalam Central Bergland dengan kedudukan Ibukota sementara di Holandia. Di wilayah Paniai terdapat 2 Onder Afdeling yaitu Wisselmeren dan Tigi serta terdapat 5 Wilayah Eksploratie Resort (Daerah Operasi), yaitu Westelijke Bergland, Bokondini en Zwart Valley, Noord Oost en West Baliem, serta Oostelijke Bergland.

Onder Afdeling Tigi masa itu dipimpin oleh Masaairuc, sementara Kepala Distrik Kamu dijabat oleh seorang Antropolog Belanda bernama Drs. Nicholaus Bomma, sampai dengan penyerahan kekuasaan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Sementara itu, pejabat-pejabat wilayah Distrik Tigi (wilayah Kabupaten Dogiyai sekarang) sejak 10 November 1962 menjelang penyerahan kekuasaan, adalah (1) Florens Imbiri, C.B.A (Candidaat Bestuur Assistant) Distrik Moenamani; dan (2) Edmundus Inggirik, C.B.A (Candidaat Bestuur Assistant) Distrik Mapia.

Secara de facto, Irian Barat telah masuk ke Republik Indonesia pada 1 Mei 1963. Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Wakil Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor: 120/PM/1965, tanggal 23 Nopember 1965, Paniai ditetapkan menjadi Kabupaten Administratif dengan Ibukota Enarotali yang terlepas dari Kabupaten Jayawijaya. Pada saat penyerahan kekuasaan pemerintahan tersebut telah terbentuk beberapa distrik antara lain Distrik Kamu dan Distrik Mapia yang merupakan distrik-distrik dalam Kabupaten Dogiyai sekarang.

Saat peralihan kekuasaan dari Pemerintah United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) kepada Pemerintah Republik Indonesia, maka jabatan Kepala Distrik Kamu yang dijabat oleh seorang Antropolog Belanda bernama Drs. Nicholaus Bomma, pada tahun 1965 diserahkan kepada Edmundus Inggirik sebagai pejabat Kepala Distrik Kamu pertama, sejak integrasinya Irian Barat kedalan Negara Republik Indonesia. Sedangkan di tahun yang sama, yang menjadi Kepala Distrik saat Pembentukan Distrik Mapia adalah Hein Inauri.

Sejalan dengan Pergantian Undang-Undang Pemerintahan Daerah, yaitu Undang-Undang Nomor 18 tahun 1965, maka Pemerintah Pusat menetapkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan Propinsi Otonom Irian Barat dan Kabupaten-Kabupaten Otonom di Irian Barat. Dengan demikian, Kabupaten Administratif Paniai ditetapkan menjadi Kabupaten Otonom atau Kabupaten Daerah Tingkat II Paniai. Dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969, Kabupaten Administratif Paniai berubah menjadi Kabupaten Dati II Paniai (Kabupaten Nabire sekarang).

Pembentukan kecamatan/distrik di wilayah Dogiyai oleh Pemerintahan Republik Indonesia, dilakukan pada tahun 1974, melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 1973 tentang Penghapusan Wilayah KPS dan Distrik serta Membentuk Pemerintah Wilayah Kecamatan di Propinsi Irian Jaya. Menindaklanjuti Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Irian Jaya mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 194/GIJ/1973 tentang Pelaksanaan Pembentukan Kecamatan di Seluruh Propinsi Irian Jaya 1973-1974, dan Surat Keputusan Nomor 194/GIJ/1973 Nomor 195/GIJ/1973 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembentukan Kecamatan di Seluruh Daerah Propinsi Irian Jaya. Pembentukan kecamatan di Propinsi Dati I Irian Jaya dilakukan dalam 3 (tiga) tahap sejak tahun 1973, dimana Kecamatan Kamu dan Kecamatan Mapia masuk dalam tahap kedua pada tahun 1974.

Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 1996 tentang Penetapan 63 Kecamatan di Propinsi Irian Jaya, maka Perwakilan Kecamatan ditetapkan menjadi Kecamatan Definitif, antara lain Perwakilan Kecamatan Sukikai (Piyaiye) dan Kecamatan Ikrar (Kamu Utara) yang merupakan distrik dalam wilayah Kabupaten Dogiyai sekarang.

Dengan pertimbangan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan, maka berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 1996, Kabupaten Daerah Tingkat II Paniai dimekarkan menjadi 3 Kabupaten, yaitu: (1) Kabupaten Daerah Tingkat II Nabire dengan Ibukota Nabire; (2) Kabupaten Administratif Paniai dengan Ibukota Enarotali; dan (3) Kabupaten Administratif Puncak Jaya dengan Ibukota Mulia. Dimana saat itu wilayah Kabupaten Dogiyai masuk dalam Kabupaten Nabire, yang meliputi Distrik Mapia, Distrik Kamu Utara, Distrik Kamu dan Distrik Piyaiye. Selanjutnya pada tahun 2006 dibentuk lagi tiga distrik baru di wilayah Kabupaten Dogiyai, yaitu Distrik Mapia Barat, Distrik Kamu Selatan dan Distrik Sukikai Selatan. Dan pada tahun 2007 dibentuk lagi tiga distrik baru, yaitu Distrik Kamu Timur, Distrik Mapia Tengah dan Distrik Dogiyai.

Selanjutnya, berdasarkan aspirasi masyarakat dan inisiatif Pemerintah Kabupaten Nabire untuk mengefektifkan pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat, maka Pemerintah Kabupaten Nabire mengusulan pembentukan Kabupaten Dogiyai yang wilayah pemerintahannya mencakup 10 (sepuluh) distrik, yakni: (1) Distrik Kamu, (2) Distrik Mapia, (3) Distrik Kamu Utara, (4) Distrik Piyaiye, (5) Distrik Kamu Selatan, (6) Distrik Mapia Barat, (7) Distrik Sukikai Selatan, (8) Distrik Kamu Timur, (9) Distrik Mapia Tengah, dan (10) Distrik Dogiyai. Akhirnya, Kabupaten Dogiyai terbentuk pada tanggal 4 Januari 2008 melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Dogiyai di Provinsi Papua, yang kemudian diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto, pada tanggal 20 Juni 2008 di Nabire.

 

B. Letak, Kondisi Geografis, dan Batas Administrasi

Kabupaten Dogiyai secara geografis terletak pada wilayah pedalaman Kabupaten Nabire, yaitu terletak diantara 135º,20’ BT – 136,37’ BT dan 3º,57’ LS – 4º,15’ LS.

Luas wilayah Kabupaten Dogiyai adalah 656.864 Ha atau 4.237,4 Km², yang terbagi kedalam 10 (sepuluh) distrik, yakni: (1) Distrik Kamu, (2) Distrik Mapia, (3) Distrik Kamu Utara, (4) Distrik Piyaiye, (5) Distrik Kamu Selatan, (6) Distrik Mapia Barat, (7) Distrik Sukikai Selatan, (8) Distrik Kamu Timur, (9) Distrik Mapia Tengah; dan (10) Distrik Dogiyai.

Kabupaten Dogiyai memiliki topografi yang bervariasi mulai dari dataran bergelombang, berbukit dan pegunungan. Wilayah perbukitan sampai pegunungan meliputi ± 83% dari wilayah kabupaten ini. Berdasarkan perbedaan geomorfologisnya, wilayah Kabupaten Dogiyai dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) zona agrolosistem, yaitu: (1) Zona Ketinggian Sedang ± 600-1500 dpl; dan (2) Zona Dataran Tinggi ± diatas 600 dpl.

Secara administrasi pemerintahan, wilayah Kabupaten Dogiyai berbatasan sebagai berikut: (1) sebelah utara: Kabupaten Nabire; (2) sebelah timur: Kabupaten Paniai dan Kabupaten Deiyai; (3) sebelah selatan: Kabupaten Kaimana dan Kabupaten Mimika; dan (4) sebelah barat: Kabupaten Kaimana.

 

C. Iklim, Suhu, dan Curah Hujan

Pada umumnya Kabupaten Dogiyai beriklim tropis basah dengan curah hujan hampir sepanjang tahun. Cuaca di Kabupaten Dogiyai dipengaruhi oleh kondisi pegunungan sehingga angin lokal sangat dominan, akibatnya Kabupaten Dogiyai tidak ada musim atau hampir setiap bulan terjadi hujan yang rata-rata 18 hari hujan. Suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian letak dimana setiap kenaikan 100 m dari permukaan air laut mengalami penurunan rata-rata 0,60 ºC, sehingga dengan topografi yang bervariasi di dataran tinggi maka suhu udara di Kabupeten Dogiyai berkisar antara 22,6 ºC sampai dengan 33,1 ºC.

 

D. Demografis

Mayoritas penduduk Kabupaten Dogiyai adalah penduduk asli yang beretnis Mee. Selain itu, terdapat sejumlah penduduk minoritas yang berasal dari luar Kabupaten Dogiyai, baik dari Papua maupun luar Papua.

Secara umum, komposisi penduduk Kabupaten Dogiyai dari tahun 2009-2013 dapat dilihat pada tabel berikut:

TAHUN 2013 2012 2011 2010 2009
Jumlah Pria (jiwa) 44.913 47.309 43.425 42.542 35.751
Jumlah Wanita (jiwa) 44.414 45.719 42.962 41.688 35.844
Total (jiwa) 89.327 93.028 86.387 84.230 71.595
Pertumbuhan Penduduk (%)
Kepadatan Penduduk (jiwa/Km²) 20 21 19

Sumber: Papua Dalam Angka 2014, BPS Provinsi Papua.

 

E. Sosial Budaya

Secara sosial budaya masyarakat di wilayah Kabupaten Dogiyai yang tersebar dalam 10 (sepuluh) distrik terdiri dari 1 (satu) etnis dan budaya, yaitu Suku Mee. Dengan adanya kesatuan dan kesamaan etnis dan budaya tersebut menyebabkan adanya persatuan yang kokoh serta persamaan dalam selera, keinginan dan aspirasi. Dengan adanya kesamaan etnis dan budaya, permasalahan yang menyangkut sosial budaya dan berbagai perbedaan semakin kecil, sehingga peluang konflik dan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) dapat dieliminir, dan hal itu merupakan modal dasar dalam pembangunan.

Disamping itu, terdapat juga suku-suku pendatang, baik dari dari Papua maupun luar Papua yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil maupun sebagai pedagang dan pertukangan, yang ikut membawa budanya sendiri walaupun tidak ditonjolkan dalam implementasinya.

 

F. Kondisi Perekonomian dan Potensi Daerah

Mata pencaharian masyarakat Kabupaten Dogiyai pada umumnya adalah bertani. Dataran lembah Kamu dan perbukitan Mapia yang subur dan luas sangat cocok untuk pengembangan lahan pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Produk unggulannya adalah kopi Arabica (kopi Mowanemani). Selain itu, terdapat juga produk pertanian yang lain seperti sayur-mayur, buah-buahan, dan umbi-umbian. Sedangkan produk peternakan antara lain adalah babi, sapi, kambing, domba, kelinci, ayam, bebek, dan itik. Daerah ini juga sangat potensial untuk pembudidayaan perikanan seperti ikan mas, nila, mujair, udang dan jenis ikan air tawar lainnya.

Dengan potensi ini, maka Kabupaten Dogiyai kedepan berpotensi untuk menjadi penyangga atau produsen hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan untuk Kabupaten Nabire, Kabupaten Paniai dan Kabupaten Deiyai maupun kabupaten lainnya dalam bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.

Disamping potensi pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan, di wilayah Kabupaten Dogiyai terdapat juga potensi hasil hutan berupa kayu dan non-kayu seperti masohi, rotan, damar, dan gaharu. Selain itu, terdapat potensi pertambangan yaitu emas dan bahan tambang lainnya yang belum dikelola. Kesemuanya ini apabila dikelola secara baik, dapat menjadi income atau devisa negara, pemerintah daerah maupun bagi masyarakat.

 

G. Sarana dan Prasarana

Secara umum kondisi sarana dan prasarana yang terdapat di Kabupaten Dogiyai sangat minim. Sarana dan prasarana yang tersedia antara lain jalan dan jembatan, saran pemerintahan, saran pendidikan, saran kesehatan dan saran dan prasarana dasar lainnya.

Prasarana jalan di ibukota kabupaten merupakan jalan Trans Irian yang menghubungkan Kabupaten Nabire, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Deiyai, dan Kabupaten Paniai serta menghubungkan beberapa distrik. Sedangkan prasarana jalan yang menghubungkan ibukota kabupaten ke beberapa distrik dan kampung-kampung dan antar kampung belum memadai. Disamping itu, terdapat satu lapangan terbang di Mowanemani Distrik Kamu yang dapat didarati oleh pesawat jenis Twin OtterCassa dan Cessna, serta terdapat beberapa lapangan terbang di beberapa distrik yang hanya bisa didarati oleh pesawat terbang jenis Cessna.

Sebagian besar distrik di wilayah Kabupaten Dogiyai telah mempunyai sarana pendidikan, namun fasilitas pendidikan tersebut belum memadai, terutama kebutuhan ruang belajar mengajar dan perumahan guru. Selain itu, terdapat juga kesulitan sarana transportasi dan fasilitas penunjang pendidikan lainnya. Hal ini menyebabkan aktivitas belajar mengajar kurang efektif.

Kondisi sarana kesehatan yang ada di wilayah ini pun masih minim. Kabupaten Dogiyai tidak mempunyai Rumah Sakit, sedangkan sejumlah PUSKESMAS dan PUSKESMAS Pembantu sangat minim fasilitas penunjang kesehatan dan tenaga medisnya. Hal ini menyebabkan kurang efektifnya pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Sarana perkantoran pemerintahan di wilayah Kabupaten Dogiyai juga sangat minim. Gedung Kantor Bupati dan sejumlah gedung kantor satuan kerja perangkat daerah (SKPD) hingga kini belum dibangun. Beberapa gedung yang dibangun pun kondisinya tidak memadai karena kurangnya fasilitas penunjang lainnya.

Sarana perekonomian juga tidak memadai. Pasar Induk Mowanemani tidak terurus dengan baik, sedangkan beberapa pasar di beberapa distrik tidak memiliki gedung pasar. Selain itu, distribusi barang juga tidak dapat dilakukan secara efektif karena tidak tersedianya sarana transportasi.

Selain itu, sarana dan prasarana lain seperti telekomunikasi, air bersih, transportasi, listrik, dan lainnya pun sangat minim baik kuantitas maupun kualitasnya.

Leave a Response