Pemkab Dogiyai Serahkan Peralatan Teknik Permesinan kepada OAP, Peserta Dibekali Keterampilan Operator Alat Berat

blog image

DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATEN DOGIYAI _-_ Pemerintah Kabupaten Dogiyai melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) menyerahkan peralatan teknik permesinan kepada Orang Asli Papua (OAP) Kabupaten Dogiyai. Penyerahan bantuan yang bersumber dari dana Otonomi Khusus (Otsus) tahun 2026 itu berlangsung di halaman Kantor Bupati Dogiyai, Kamis (1/10/2026).

Sebanyak 14 perwakilan OAP hadir dalam kegiatan tersebut. Para peserta tersebut sebelumnya telah mengikuti pelatihan operator alat berat atau buldoser di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Idaman Karya Mandiri Training Center Timika selama 20 hari. Setelah mengikuti pelatihan, peserta menerima sertifikat dan peralatan teknik permesinan yang diharapkan dapat menjadi bekal untuk mencari pekerjaan maupun mengembangkan usaha secara mandiri.

Asisten I Setda Kabupaten Dogiyai, Nason Pigai, S.IP., mengatakan program pelatihan dan pemberian peralatan tersebut penting karena jumlah pencari kerja setiap tahun terus bertambah, sementara kesempatan untuk bekerja sebagai pegawai pemerintah terbatas. Kondisi tersebut, lanjutnya, bukan hanya terjadi di Kabupaten Dogiyai atau Papua, tetapi juga terjadi secara nasional.

“Pertama-tama kita naikkan puji dan syukur kepada Tuhan karena atas perkenan-Nya kita boleh berkumpul di sini untuk serahkan suku cadang terus sertifikat kepada peserta yang sudah ikut di sini,” kata Nason.

Nason kemudian menjelaskan persoalan pencari kerja yang setiap tahun terus bertambah. Pencari kerja setiap tahun itu, lanjutnya, biasa bertambah di seluruh Indonesia, secara nasional dari Sabang sampai Merauke. Banyaknya lulusan perguruan tinggi setiap tahun ikut menambah jumlah pencari kerja. Ia memberikan contoh lulusan Universitas Cenderawasih (Uncen) di Jayapura. 

“Jadi satu perguruan tinggi saja kalau di Uncen, satu kali wisuda itu mungkin hampir 1.000 lebih. Belum hitung lagi perguruan-perguruan tinggi yang lahir di Jayapura, belum hitung lagi perguruan-perguruan tinggi dari Nabire, satu Papua, belum hitung lagi satu Indonesia,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut harus disikapi dengan membuka pilihan atau pekerjaan lain di luar pekerjaan sebagai pegawai pemerintah. Sebab, tidak semua pencari kerja dapat ditampung oleh pemerintah.

“Kita tidak bisa hanya harapan itu kerja di pemerintahan sebagai tenaga pendidikan, tenaga kesehatan atau tenaga yang lain. Karena itu khususnya peserta pelatihan, untuk mulai melihat dan ciptakan peluang usaha mandiri,” katanya.

Nason menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Dogiyai, Bupati Dogiyai serta pihak-pihak yang telah mendukung program pelatihan tersebut.

“Di sini kita sampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah, kepada Pak Bupati dan lebih lagi kepada para stakeholders yang kita programkan kegiatan ini dan bisa berangkat untuk lakukan kegiatan pelatihan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan,” katanya.

Nason kemudian mengibaratkan bantuan pemerintah kepada masyarakat seperti orang tua yang memberikan bibit tenak kepada anaknya. Menurutnya, setelah menerima bantuan, penerima harus memiliki kemauan dan kreativitas untuk mengembangkan apa yang telah diberikan. Ia mencontohkan kebiasaan orang tua dahulu yang memberikan tenak kepada anak.

“Dulu orang tua ketika dikawinkan antara pemuda dan pemudi itu orang tua akan serahkan ini, mau kembangkan dari ini atau tidak. Dikasih satu ekor betina, terus dulu baru kasih babi juga,” katanya.

Menurutnya, dari bantuan kecil tersebut seseorang dapat mengembangkannya menjadi lebih besar apabila memiliki kreativitas dan kemauan.

“Kalau dia kreatif, kalau dia mampu untuk ini, dia akan jadi. Dia bisa bikin kebun banyak, dia bisa bikin babi banyak, dia bisa bikin istri banyak, dia bisa selesaikan masalah-masalah besar kampung dari satu ini babi,” ujanya.

Ia kemudian menghubungkan analogi tersebut dengan bantuan peralatan dan keterampilan yang diberikan pemerintah kepada peserta pelatihan.

“Jadi ini yang diberikan kepada ini sama dengan itu. Konsep itu, nabi turun seseorang menjadi tenakwi dari satu ... babi, satu pasangan suami istri dari orang berada punya kina, ya dari satu ini bibit babi macam-macam itu,” katanya.

Menurut Nason, bantuan pemerintah tidak selalu harus berupa fasilitas besar. Hal-hal dasar seperti suku cadang, keterampilan, jaminan dan sertifikat juga dapat menjadi modal awal bagi masyarakat.

“Jadi bantuan dari pemerintah itu kita tidak bisa harapkan yang besar-besar. Mungkin dasar-dasar seperti suku cadang, seperti jaminan tadi, sertifikat,” katanya.

Ia menilai sertifikat yang diterima peserta dapat menjadi salah satu bukti keterampilan yang bisa digunakan ketika mencari pekerjaan.

“Kalau pakai barcode itu di mana saja berlaku. Kalau tidak terhebat baru, eh, dia tidak berfungsi,” katanya.

Nason kemudian mendorong peserta untuk menggunakan keterampilan yang telah diperoleh dengan menawarkan jasa kepada perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga operator alat berat.

“Macam kita bisa pergi ke PT-PT, mungkin di Nabire, kita bisa tawarkan mungkin jasa kita, tenaga kita,” ujanya.

Ia juga menyinggung aktivitas pembangunan dan penggunaan alat berat di berbagai wilayah. Menurutnya, ketika perusahaan atau pihak lain masuk dan melakukan pekerjaan yang membutuhkan alat berat, masyarakat lokal yang sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan seharusnya dapat mengambil peluang tersebut.

“Karena kita punya ... sudah ada, 13 sudah ada, jadi dua di mana saya macam itu. Jadi ini luar biasa,” katanya.

Nason mengatakan peluang tersebut semakin terbuka apabila aktivitas perusahaan dan pembangunan terus berjalan.

“Apalagi suatu kelas mungkin buka tambang-tambang dari perusahaan ini, macam buka mobil terus siapa di apa, tapi raya pokoknya di mana saja mereka itu nanti kita hanya nonton kalau tidak kita tidak punya keterampilan,” katanya.

Menurutnya, masyarakat yang sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan tidak seharusnya hanya menjadi penonton ketika aktivitas pekerjaan berlangsung di daerahnya.

“Tapi kita beruntung karena kita sudah punya pengetahuan dan keterampilan sehingga kita juga bisa diterima sebagai karyawan untuk ini bongkar-bongkar gunung atau apa begitu,” ujanya.

Ia menegaskan bahwa kesempatan kerja tidak hanya berada di lingkungan pemerintah. Masyarakat juga dapat memanfaatkan berbagai peluang ekonomi yang ada di sekitanya.

“Itu yang kami harapkan supaya di sini macam mau memanfaatkan atau tidak, mau kembangkan atau tidak, ya tergantung kemauan kita, kreativitas kita, semangat kita,” katanya.

Nason juga memberikan contoh sederhana mengenai usaha yang dapat dilakukan masyarakat dengan modal yang relatif kecil. Menurutnya, peluang ekonomi bisa ditemukan dari kebutuhan sehari-hari.

“Kesempatan banyak. Materi dijual-jual, ini pulsa. Di situ juga ada uang,” katanya.

Ia mencontohkan usaha penjualan pulsa, pulsa data dan pulsa listrik yang menurutnya dapat memberikan pemasukan apabila dikelola secara rutin.

“Setiap hari itu kalau kita bikin jual beli ini pulsa, pulsa data, pulsa listrik, pulsa biasa, setiap hari itu bisa masuk ini lima, sepuluh ribu,” katanya.

Menurutnya, usaha kecil apabila dikelola secara konsisten dapat berkembang menjadi sumber pendapatan.

“Mungkin hitung-hitung satu hari bisa seribu atau berapa. Kita bikin itu kecil, tapi kalau jadi kita bisa bikin itu dari macam itu. Dari peluang-peluang itu bisa kita biasa manfaatkan,” ujanya.

Karena itu, ia meminta peserta pelatihan tidak menyia-nyiakan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh.

“Dengan adanya pengetahuan, keterampilan yang kita sudah memiliki ini bekal ini, ya kita harus manfaatkan untuk kembangkan diri, untuk mencari pekerjaan,” katanya.

Nason juga mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu fokus mengejar pekerjaan sebagai pegawai pemerintah karena jumlah formasi dan kesempatan yang tersedia terbatas.

“Jadi kita jangan harap hanya jadi pegawai. Ada yang ini sudah lewat umur dari mereka, tidak bisa ini itu. Yang kita harus apa, jangan terlalu fokus untuk kejar pegawai,” katanya.

Ia berharap keterampilan yang diperoleh dari pelatihan dapat menjadi modal bagi peserta untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha mandiri.

“Dengan ini modal pengetahuan, keterampilan yang ada,” ujanya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Dogiyai, Derek Edowai, S.S., dalam penjelasannya juga menyoroti persoalan bertambahnya pencari kerja setiap tahun.

Derek mengatakan jumlah pencari kerja terus bertambah di seluruh Indonesia. Ia kembali menyinggung banyaknya lulusan perguruan tinggi yang setiap tahun memasuki dunia kerja.

“Pertama-tama kita naikkan puji dan syukur kepada Tuhan karena atas perkenan-Nya kita boleh berkumpul di sini untuk serahkan suku cadang terus sertifikat kepada peserta yang sudah ikut di sini,” katanya.

Ia mengatakan kondisi tersebut membuat masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah untuk mendapatkan pekerjaan.

“Pencari kerja setiap tahun itu biasa bertambah di seluruh Indonesia, secara nasional dari Sabang sampai Merauke,” ujanya.

Menurut Derek, lulusan perguruan tinggi dari berbagai daerah ikut bersaing untuk mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, kesempatan untuk menjadi pegawai pemerintah tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja.

“Jadi penganggur itu setiap hari bertambah-tambah dan tambah,” katanya.

Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk memiliki keterampilan dan kemampuan usaha agar dapat menciptakan peluang kerja bagi diri sendiri.

“Kita tidak bisa hanya harapan itu kerja di pemerintahan sebagai tenaga pendidikan, tenaga kesehatan atau tenaga yang lain,” katanya.

Derek juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Dogiyai karena telah memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengikuti pelatihan dan memperoleh keterampilan.

Ia berharap keterampilan operator alat berat yang telah diperoleh selama mengikuti pelatihan di LPK Idaman Karya Mandiri Training Center Timika dapat digunakan untuk mencari pekerjaan, baik di perusahaan maupun melalui usaha mandiri.

“Dengan adanya pengetahuan dan keterampilan yang kita sudah memiliki ini bekal ini, kita harus manfaatkan untuk kembangkan diri, untuk mencari pekerjaan,” katanya.

Menurutnya, sertifikat dan keterampilan yang diberikan merupakan modal awal yang harus dimanfaatkan oleh peserta.

Ia juga kembali mengingatkan agar peserta tidak hanya mengejar pekerjaan sebagai pegawai pemerintah.

“Jadi kita jangan harap hanya jadi pegawai. Jangan terlalu fokus untuk kejar pegawai,” ujanya.

Derek berharap bantuan peralatan, sertifikat dan keterampilan tersebut benar-benar digunakan sehingga peserta dapat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk masuk ke dunia kerja. (Humas Kabupaten Dogiyai)